“Antara Tantangan dan Peluang Dakwah”

       gmb orang ngajiDinul Islam adalah agama dengan aturan-aturan yang jelas dalam mengatur kehidupan para pemeluknya, ada batasan tertentu agar orang-orang muslim tidak keluar dari garis “ketuhanan”. Batasan itu merupakan panduan multak yaitu kitab suci Al Qur’an dan As-Sunnah serta ilmu pengetahuan diniyyah

   Akan tetapi, dinul Islam tidak menutup kemungkinan adanya Ijtihad-ijtihad baru dari para Mujtahid sebagai bentuk keluwesan agama ini dalam menghadapi perubahan zaman. Dalam hal ini “kran-kran” ijtihad telah dibuka lebar-lebar. Walaupun begitu Islam sangat melarang adanya “pemerkosaan dalil” yang digunakan untuk menopang pendapatnya. Dalam artian menukil dalil-dalil yang tidak semestinya dijadikan produk ijtihad tersebut.

       Namun akhir-akhir ini dalam Islam telah terjadi pemikiran baru yaitu “Liberalisasi Islam”. Sebuah pemikiran yang menginginkan kebebasan berfikir yang bertujuan memajukan umat Islam. Di Indonesia, pemikiran ini banyak mengadopsi dari pemikir muslim asal Mesir, yaitu Hasan Hanafi. Pada intinya umat Islam tidak boleh jumud dan harus progresif terhadap perkembangan jaman. “Islam jangan hanya berkutat dalam pembahasan doktrin-doktrin kuno” itulah jargon mereka

       Yang kmudian menjadi pembahasan kita adalah mengenai pemikiran itu yang terkadang keluar dari nash atau dalil qoth’i. Seperti nikah lintas agama, shalat tidak perlu, dan lain-lain. Berarti pemikiran ini menginginkan kemajuan Islam keluar dari tradisi (Khariqul Adah). Sama seperti yang dilakukan  oleh Kristen Liberal di Amerika yang dipelopori oleh Martin Luther. Dan memang hal ini telah terbukti berhasil dilakukan dengan terciptanya inovasi-inovasi teknologi “Dajjal” yang seksi dan menggiurkan. Lalu apakah memang seperti itu tujuan diturunkannya Islam di muka bumi ini? Dan apakah layak pemikiran semacam itu di Indonesia.

       Di Indonesia, justru sebaliknya adopsi pemikiran itu mempunyai dampak yang sangat besar terhadap perilaku keseharian kaum muslimin. Sehingga sekarang banyak kita lihat orang mengaku muslimah tetapi tidak berjilbab, mengaku Islam tetapi berpakaian ala barat yang lebih mengumbar aurat daripada menjaganya. Bukan berarti kita serta merta menyalahkan dunia barat, akan tetapi diakui atau tidak umat Islam telah semakin jauh dari nilai-nilai keislaman yang kaffah. Cenderung hipokrit, hedonis serta materialis.

       Tidak dapat dipungkiri lagi, apabila pemikiran liberal itu telah merusak kepada seseorang yang tidak mempunyai kapasitas keilmuan diniah yang kuat, sudah barang tentu akan menimbulkan dampak degradasi moralitas yang luar biasa. Dan apabila pemikiran itu masuk kepada orang-orang yang mempunyai kapasitas keilmuan diniyah yang kuat, maka akan menjadikan mereka orang yang berkepribadian hipokrit atau dalam bahasa lain disebut split personality (pribadi yang pecah).