penulis Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar
Syariah Ibrah 24 – Februari – 2006 03:09:39

ditulis kembali: Achyars.

Disebutkan bahwa kisah ini bermula ketika Nabi Musa mengajar Bani Israil berbagai ilmu. Mereka merasa kagum dgn keluasan ilmunya. Di saat itu ada yg berta kepadanya: “Wahai Nabi Allah adakah di dunia ini seseorang yg lbh berilmu daripada engkau?”
Nabi Musa mengatakan “Tidak.” Jawaban ini didasari pengetahuan yg ada pada beliau sekaligus sebagai dorongan mereka agar menimba ilmu yg ada pada beliau. Namun Allah segera mengabarkan kepada beliau bahwa ada seorang hamba-Nya yg ada di daerah pertemuan dua laut mempunyai ilmu yg tdk ada pada Nabi Musa dan hal-hal yg luar biasa.
Akhir muncullah keinginan beliau utk bertemu dan menambah ilmu yg ada pada dari hamba Allah tersebut. Dan beliau memohon agar Allah mengizinkannya. Kemudian Allah menerangkan kepada beliau tempat di mana Khidhr1 berada dan memerintahkan agar beliau membawa bekal seekor ikan. Lalu dikatakan kepadanya: “Apabila engkau kehilangan ikan itu mk dia berada di tempat tersebut.”
Beliaupun berangkat dan akhir bertemu. Dan kisah ini Allah sebutkan selengkap di dlm surat Al-Kahfi:

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِفَتَاهُ لاَ أَبْرَحُ حَتَّى أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا. فَلَمَّا بَلَغَا مَجْمَعَ بَيْنِهِمَا نَسِيَا حُوْتَهُمَا فَاتَّخَذَ سَبِيْلَهُ فِي الْبَحْرِ سَرَبًا.. وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلاَمَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِيْنَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوْهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ذَلِكَ تَأْوِيْلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا

“Dan ketika Musa berkata kepada muridnya: ‘Aku tdk akan berhenti sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun’. mk tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu mereka lalai akan ikan lalu ikan itu melompat mengambil jalan ke laut itu. mk tatkala mereka berjalan lbh jauh berkatalah Musa kepada muridnya: ‘Bawalah kemari makanan kita; sesungguh kita telah merasa letih krn perjalanan kita ini’. Murid menjawab: ‘Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi mk sesungguh aku lupa ikan itu dan tdk adl yg melupakan aku utk menceritakan kecuali setan dan ikan itu mengambil jalan ke laut dgn cara yg aneh sekali.’ Musa berkata: ‘Itulah yg kita cari’. Lalu kedua kembali mengikuti jejak mereka semula. Lalu mereka bertemu dgn seorang hamba di antara hamba-hamba Kami yg telah Kami berikan kepada rahmat dari sisi Kami dan yg telah Kami ajarkan kepada ilmu dari sisi Kami. Musa berkata kepada Khidhr: ‘Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yg benar di antara ilmu-ilmu yg telah diajarkan kepadamu?’ Dia menjawab: ‘Sesungguh kamu sekali-kali tdk akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yg kamu belum mempunyai pengetahuan yg cukup tentang hal itu?’ Musa berkata: ‘Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yg sabar dan aku tdk akan menentangmu dlm satu urusanpun’. Dia berkata: ‘Jika kamu mengikutiku mk janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun sampai aku sendiri menerangkan kepadamu’. mk berjalanlah kedua hingga tatkala kedua menaiki perahu lalu Khidhr melubanginya. Musa berkata: ‘Mengapa kamu melubangi perahu itu yg akibat kamu menenggelamkan penumpangnya?’ Sesungguh kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yg besar. Dia berkata: ‘Bukankah aku telah berkata: ‘Sesungguh kamu sekali-kali tdk akan sabar bersama dgn aku.’ Musa berkata: ‘Janganlah kamu menghukum aku krn kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dgn sesuatu kesulitan dlm urusanku’. mk berjalanlah keduanya; hingga tatkala kedua berjumpa dgn seorang anak mk Khidhr membunuhnya. Musa berkata: ‘Mengapa kamu bunuh jiwa yg bersih bukan krn dia membunuh orang lain? Sesungguh kamu telah melakukan suatu yg mungkar’. Khidhr berkata: ‘Bukankah sudah kukatakan kepadamu bahwa sesungguh kamu tdk akan dapat sabar bersamaku?’ Musa berkata: ‘Jika aku berta kepadamu tentang sesuatu sesudah ini janganlah kamu membolehkan aku menyertaimu sesungguh kamu sudah cukup memberikan uzur padaku’. mk kedua berjalan; hingga tatkala kedua sampai kepada penduduk suatu negeri mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu tetapi penduduk negeri itu tdk mau menjamu mereka kemudian kedua mendapatkan dlm negeri itu dinding rumah yg hampir roboh mk Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: ‘Jikalau kamu mau niscaya kamu mengambil upah utk itu’. Khidhr berkata: ‘Inilah perpisahan antara aku dgn kamu. Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yg kamu tdk dapat sabar terhadapnya. Adapun bahtera itu adl kepunyaan orang2 miskin yg bekerja di laut dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu krn di hadapan mereka ada seorang raja yg merampas tiap bahtera. Dan adapun anak itu mk kedua orang tua adl orang2 mukmin dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tua itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki supaya Rabb mereka mengganti anak lain bagi mereka yg lbh baik kesucian dari anak itu dan lbh dlm kasih sayang . Adapun dinding rumah itu adl kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu dan di bawah ada harta benda simpanan bagi mereka berdua sedangkan ayah adl seorang yg shalih mk Rabbmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaan dan mengeluarkan simpanan itu sebagai rahmat dari Rabbmu; dan tidaklah aku melakukan menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adl tujuan perbuatan-perbuatan yg kamu tdk dapat sabar terhadapnya’.”

Beberapa Pelajaran Penting
1. Kisah ini sarat dgn berbagai keutamaan ilmu dan disyariatkan rihlah mencari ilmu. Dan diterangkan pula dlm kisah ini bahwa ilmu adl perkara yg sangat penting. Nabi Musa melakukan perjalanan yg sangat jauh utk menuntut ilmu dan merasakan keletihan. Beliau lbh suka meninggalkan Bani Israil agar nanti dapat mengajar dan membimbing mereka dan memilih berangkat mencari tambahan ilmu.
2. Diterangkan dlm kisah ini bahwa tahap awal dlm menuntut ilmu hendak dimulai dari yg paling utama kemudian berikutnya. Karena sesungguh seseorang yg menambah ilmu dgn usahanya sendiri lbh penting daripada dia meninggalkan krn semata-mata sibuk mengajar. Hendaklah dia kerjakan kedua sekaligus mengajar sambil tetap belajar.
3. Boleh mengangkat seorang pelayan dlm perjalanan atau ketika bermukim utk memudahkan urusan dan ketenangan sebagaimana dilakukan oleh Nabi Musa
4. Seorang musafir yg menuntut ilmu berjihad ataupun utk melaksanakan suatu ketaatan apabila memang terdapat kemaslahatan yg nyata utk disampaikan kepada yg lain ke mana dan apa yg dicari mk lbh baik menceritakan daripada merahasiakannya.
Ini mengandung berbagai manfaat. Di samping utk mempersiapkan diri juga sebagai dorongan utk mengerjakan amalan yg utama ini. Sebagaimana yg beliau katakan di dlm ayat tersebut:

لاَ أَبْرَحُ حَتَّى أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا

“Aku tdk akan berhenti sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.”
Dan tatkala Rasulullah dalam peristiwa perang Tabuk beliau mengabarkan banyak tujuan kepada manusia. Padahal biasa apabila ingin memerangi suatu kaum beliau rahasiakan maksud dan tujuan beliau utk suatu kemaslahatan.
5. Boleh menisbahkan suatu kejahatan sebab-sebab dan kekurangan kepada setan. Dengan dalil perkataan pembantu Nabi Musa kepada sebagaimana difirmankan Allah :

وَمَا أَنْسَانِيهُ إِلاَّ الشَّيْطَانُ

“Dan tidaklah ada yg membuat saya lupa mengingat kecuali setan.”
6. Boleh menceritakan apa yg dirasakan oleh diri sendiri kepada orang lain seperti letih lapar atau dahaga dan tabiat manusiawi lainnya. Dengan syarat jujur dlm mengucapkan dan bukan didorong oleh kejengkelan atau tdk suka terhadap semua keadaan tersebut. Hal ini berdasarkan firman Allah tentang perkataan Nabi Musa :

لَقَدْ لَقِيْنَا مِنْ سَفَرِنَا هَذَا نَصَبًا

“Sungguh kita telah merasa letih dgn perjalanan kita ini.”
7. Diajarkan kepada kita dlm kisah ini utk mengambil seorang pembantu yg cerdas dan rajin agar bisa menyempurnakan semua urusan yg diinginkan. Dan sangat dianjurkan utk memberi makan seorang pembantu dari apa yg dimiliki atau memakan bersama-sama. Karena lafadz ayat آتِنَا غَدَاءَنَا arti utk semuanya. Diambil dari pengertian ayat ini bahwa pertolongan itu diperoleh seseorang sesuai dgn sejauh mana dia menjalankan hal-hal yg disyariatkan. Dan barangsiapa yg amalan sesuai dgn apa yg diridhai oleh Allah niscaya dia akan ditolong dgn sesuatu yg belum tentu diterima oleh orang lain. Hal ini adl krn firman Allah tentang ucapan Nabi Musa
لَقَدْ لَقِيْنَا مِنْ سَفَرِنَا هَذَا نَصَبًا menunjukkan perjalanan yg telah melampaui pertemuan dua buah laut itu. Sedangkan perjalanan yg pertama mereka tempuh beliau belum mengeluhkan meskipun sudah demikian jauhnya.
8. Hamba Allah yg ditemui oleh Nabi Musa bukanlah seorang nabi. Khidhr hanyalah seorang hamba yg shalih yg mempunyai ilmu dan senantiasa mendapat ilham . Ini juga berdasarkan sebutan Allah dan pujian-Nya di mana Allah menyebut Khidhr sebagai seorang hamba yg istimewa dan mempunyai ilmu serta sifat-sifat yg baik lainnya. Allah tdk menyebut sebagai nabi atau rasul. Adapun perkataan Khidhr yg disebutkan Allah di akhir kisah ini:

وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي

“Dan tidaklah aku melakukan menurut kehendakku sendiri.”
Ungkapan tersebut tidaklah menunjukkan bahwa beliau adl seorang nabi.
Kalimat tersebut tdk lain hanyalah menyatakan bahwa semua itu adl ilham dan bimbingan dari Allah. Hal ini mungkin saja terjadi pada orang2 yg kedudukan bukan nabi. Sebagaimana Allah berfirman:

وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ..

“Dan Rabbmu telah mewahyukan kepada lebah itu..”
Dan:

وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى..

“Dan telah Kami wahyukan kepada ibu Musa..”
9. dlm kisah ini diterangkan bahwa ilmu yg diajarkan kepada para hamba-Nya ada dua jenis:
Pertama: Ilmu yg diusahakan yg dapat difahami oleh seseorang dgn mempelajari dan bersungguh-sungguh mendapatkannya.
Kedua: Ilmu yg berupa ilham laduni sebagai hadiah yg dianugerahkan Allah kepada hamba-hamba-Nya dgn dalil:

وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا

“Dan telah Kami ajarkan kepada ilmu dari sisi Kami.”
Dan Khidhr mendapat bagian sangat banyak dari ilmu jenis yg kedua ini.
10. dlm kisah ini diterangkan kepada kita agar mempunyai adab sopan santun dan bersikap lemah lembut terhadap guru atau pendidik sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Musa. Firman Allah :

هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا

“Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu-ilmu yg telah diajarkan kepadamu?”
Dalam ayat itu disebutkan cara Nabi Musa mengeluarkan tutur kata yg sangat santun dan seakan-akan sedang meminta pendapat. Seakan-akan beliau menyebutkan: “Apakah engkau bersedia memberi izin kepada saya ataukah tidak?” Di sini beliau tampakkan betapa butuh beliau kepada guru tersebut. Beliau belajar dari Khidhr dan mempunyai keinginan besar utk mendapatkan ilmu yg ada pada gurunya.
Hal ini berbeda dgn orang2 yg sombong dan kasar yg merasa tdk butuh kepada ilmu seorang guru atau pendidik. Dan sesungguh tdk ada yg lbh bermanfaat bagi seorang murid atau pencari ilmu selain menunjukkan sangat butuh kepada ilmu yg ada pada guru dan berterima kasih atas bimbingan serta didikannya.
11. dlm kisah ini digambarkan sikap tawadhu’ . Seorang yg kedudukan sangat mulia mau belajar menimba ilmu dari seorang yg kedudukan berada di bawahnya. Tidak kita sangsikan lagi bahwa Nabi Musa  jauh lbh mulia dari Khidhr. Jadi dari kisah ini boleh seorang yg berkedudukan tinggi menimba ilmu yg tdk dikuasai kepada orang yg mahir dlm ilmu tersebut meskipun orang yg mahir itu berada di bawah dlm ilmu.
Nabi Musa adl salah seorang Rasul Ulul ‘Azmi yg telah Allah berikan ujian dan ilmu yg tdk diberikan-Nya kepada yg lain. Namun dlm ilmu yg khusus ini hanya Khidhr yg memilikinya. Oleh sebab itulah betapa besar antusiasme beliau utk mempelajari dari Khidhr.
Dengan demikian sangat jelas wajib kita sandarkan bahwa ilmu ini ataupun berbagai karunia dan keutamaan lain semua adl karunia dan rahmat Allah. Bahkan wajib mengakui dan bersyukur kepada Allah atas semua keni’matan itu sebagaimana diisyaratkan dlm perkataan Nabi Musa kepada Khidhr dlm ayat tersebut: أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا .
12. Dijelaskan dlm kisah ini bahwa ilmu yg bermanfaat adl ilmu yg membimbing pemilik kepada kebaikan. Demikian pula hal ilmu-ilmu yg mengandung bimbingan dan hidayah atau petunjuk menuju jalan kebaikan dan mengingatkan agar menjauhi jalan yg buruk atau yg mengarah kepada semua adl ilmu yg bermanfaat. Sedangkan yg selain itu boleh jadi hanya akan menimbulkan madharat atau tdk berguna sama sekali. Inilah yg diisyaratkan dlm ayat tadi: أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا .
13. Diajarkan pula kepada kita dari kisah ini bahwa seseorang yg tdk sanggup bersabar dlm menyertai guru atau pendidik atau tdk memiliki kekuatan utk tetap tsabat dlm menempuh jalan mencari ilmu mk dia bukanlah termasuk orang yg dikatakan pantas utk menerima ilmu. Barangsiapa tdk mempunyai kesabaran utk menuntut ilmu niscaya dia tdk akan mendapatkannya. Sebalik siapa yg sanggup bersabar dan membiasakan diri menghadapi suatu permasalahan niscaya dia akan memperoleh semua yg ingin dicapainya. Dan Khidhr telah memberikan penjelasan kepada Nabi Musa bahwa beliau tdk akan sanggup bersabar utk mengetahui ilmu khusus yg ada padanya.
Adapun hal-hal yg dapat mendukung seseorang bersabar menghadapi sesuatu adl pengetahuan terhadap permasalahan itu manfaat buah atau hasilnya. Barangsiapa tdk mengetahui beberapa perkara ini akan sulit bagi utk bersabar. Allah berfirman menceritakan perkataan Khidhr kepada Nabi Musa :

وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَى مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا

“Dan bagaimana kamu dapat bersabar terhadap sesuatu yg kamu belum mempunyai pengetahuan yg cukup tentang hal itu.”
14. dlm kisah ini dianjurkan berhati-hati dan teliti serta tdk terburu-buru menghukumi suatu permasalahan sampai yg diinginkan atau yg dimaksud benar-benar jelas.
15. dlm kisah ini terdapat dalil disyariatkan menyandarkan suatu keadaan yg akan terjadi kepada kehendak Allah seperti disebutkan dlm ayat:

سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللهُ صَابِرًا وَلاَ أَعْصِي لَكَ أَمْرًا

“Insya Allah engkau akan dapati aku sebagai seorang yg sabar dan aku tdk akan menentangmu dlm suatu urusanpun.”
16. ‘Azam utk melaksanakan sesuatu tidaklah sama dgn pelaksanaannya. Dan Nabi Musa memang berazam utk sabar namun beliau tdk melaksanakannya.
17. Pelajaran lain dari kisah ini apabila seorang pendidik melihat ada kemaslahatan dgn menerangkan kepada murid agar tdk berta tentang suatu permasalahan hingga dia sendiri yg menerangkan masalah itu kepada . Dan sesungguh kemaslahatan itu senantiasa mengikuti. Sebagaimana hal bila seorang murid mempunyai pemahaman kurang sempurna hendak guru melarang murid memberatkan diri utk meneliti suatu permasalahan sedemikian rupa dan berta tentang persoalan yg tdk ada kaitan dgn topik yg diajarkan.
18. Boleh mengendarai sebuah kapal jika memang tdk membahayakan.
19. Diterangkan pula dlm kisah ini bahwa seorang yg lupa tdk pantas dihukum baik terlupa hak Allah atau hak hamba-hamba-Nya. Kecuali apabila pelanggaran itu menimbulkan kerusakan atau kerugian harta benda. mk dlm permasalahan ini perlu ada dhiman termasuk orang yg lupa. Allah berfirman tentang perkataan Nabi Musa kepada Khidhr:

قَالَ لاَ تُؤَاخِذْنِي بِمَا نَسِيْتُ

“Janganlah kamu menghukumku krn kelupaanku.”
20. dlm berinteraksi dgn sesama manusia sepantas seseorang melakukan sesuatu yg dapat menimbulkan sikap toleran dan pemaafan mereka. Janganlah membebani mereka dgn sesuatu yg mereka tdk mampu melakukan sangat memberatkan atau bahkan menghancurkan mereka. Kalau ini terjadi tentu akan menjadi pemicu bagi mereka utk menjauh. Bahkan hendak dia juga mempunyai sikap memudahkan agar semua urusan juga mudah.
21. Semua permasalahan itu terjadi berdasarkan kenyataan lahiriahnya. Dan berangkat dari hal ini pula ditegakkan hukum-hukum duniawi dlm berbagai persoalan. Dikatakan demikian krn kita lihat sikap Nabi Musa mengingkari tindakan Khidhr merusak kapal yg mereka tumpangi dan membunuh seorang remaja berdasarkan ketentuan umum yg berlaku. Dan beliau tdk melihat kepada perjanjian yg disepakati bersama Khidhr utk tdk berta dan membantah semua tindakan sampai Khidhr sendiri yg memulai memberikan penjelasan.
22. dlm kisah ini kita dapatkan juga keterangan yg jelas tentang kaidah penting dlm syariat Islam ini yaitu boleh mencegah terjadi kejahatan yg besar dgn melakukan kejahatan yg lbh ringan dan keharusan menjaga kemaslahatan yg lbh besar meskipun akibat kehilangan kemaslahatan yg lbh kecil. Jadi pembunuhan yg dilakukan Khidhr jelas kejahatan. Namun apabila anak itu tetap hidup sampai dewasa dan menyesatkan kedua ibu bapak mk ini adl kejahatan yg jauh lbh besar.
Bila anak itu dibiarkan tetap hidup meskipun kelihatan baik secara lahiriah namun keberadaan ibu bapak dlm agama mereka jauh lbh baik lagi. Oleh krn itulah Khidhr membunuh sesudah Allah mengilhamkan kepada hakekat keadaan anak tersebut. Dengan demikian ilham batin yg diterima Khidhr mempunyai kedudukan yg sama seperti keterangan yg nyata bagi orang lain.
Kaidah lain adl tentang tindakan manusia terhadap harta orang lain. Bila dilakukan dgn cara yg mengandung maslahat dan jauh dari kerusakan mk hal ini dibolehkan meskipun tanpa izin. Meskipun perbuatan itu merugikan seperti perbuatan Khidhr yg merusak kapal yg ditumpangi utk menyelamatkan kapal itu dari rampasan seorang raja dzalim ketika itu. Dan masih banyak faedah lain yg berada di bawah kaidah-kaidah ini.
23. Boleh bekerja di lautan sebagaimana juga boleh bekerja di daratan krn ada ayat:

يَعْمَلُوْنَ فِي الْبَحْرِ

“Mereka bekerja di laut…”
24. Faedah lain membunuh termasuk dosa-dosa besar.

1 Disebutkan dlm Al-Mughni fi Dhabthi Asma`ir Rijal karya Muhammad bin Thahir Al-Hindi: Khidhr: bisa diucapkan dgn memfathahkan huruf kha atau mengkasrahkan dan mensukun huruf dhadh atau memfathahkan atau mengkasrahkan

Sumber: http://www.asysyariah.com