MATERI UJI KOMPETENSI GURU PAI

1. Profesionalisme guru PAI
Guru merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI). Karena GPAI di samping mempunyai peran mentransfer ilmu dan juga membantu proses internalisasi moral kepada siswa. Jadi GPAI diharapkan mampu membawa anak didiknya menjadi manusia yang ”sempurna” baik lahiriah maupun batiniah. Dari sini seorang GPAI dituntut untuk bertindak secara profesional agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan maksimal.
Kemampuan atau profesionalitas guru (termasuk guru agama) menurut Mohammad Uzer Usman meliputi hal-hal berikut ini:
a. Menguasai landasan kependidikan
– Mengenal tujuan pendidikan nasinal untuk mencapai tujuan
– Mengenal fungsi sekolah dalam masyarakat
– Mengenal prinsip-prinsip psikologi pendidikan yang dapat dimamfaatkan dalam proses belajar mengajar.
b. Menguasai bahan pengajaran
– Mengusai bahan pengajaran kurikulum pendidikan pendidikan dasar dan menegah
– Mengusai bahan pengajaran
c. Menyusun program pengajaran
– Menetapkan tujuan pembelajaran
– Memiliki dan mengembangkan bahan pembelajaran
– Memiliki dan mengembangkan media pengajaran yang sesuai
– Memilih dan memamfaatkan sumber belajar
d. Melaksanakan program pengajaran
– Menciptakan iklim belajar mengajar yang tepat
– Mengatur ruangan belajar
– Mengelola interaksi belajar mengajar
e. Menilai hasil belajar mengajar yang telah dilaksanakan
– Menilai prestasi murid untuk kepentingan pengajaran
– Menilai proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan.
Dari keterangan di atas tersebut guru profesional adalah guru yang mempunyai strategi mengajar, menguasai bahan, mampu menyusun program maupun membuat penilaian hasil belajar yang tepat. Selain itu seorang guru yang profesional juga harus mampu memotivasi siswanya untuk semangat dalam belajarnya. Mengenai hal ini menurut Ibrahim dan Syaodih ada beberapa kemampuan yang mesti dimiliki oleh guru yaitu :
Pertama, menggunakan cara atau metode dan media mengajar yang bervariasi. Dengan metode dan media yang bervariasi kebosanan pun dapat dikurangi atau dihilangkan.
Kedua, memilih bahan yang menarik minat dan dibutuhkan siswa. Sesuatu yang dibutuhkan akan menarik perhatian, dengan demikian akan membangkitkan motivasi untuk mempelajarinya.
Ketiga, memberikan saran antara lain ujian semester, ujian tegah semester, ulangan harian dan juga kuis.
Keempat, memberikan kesempatan untuk sukses. Bahan atau soal yang sulit yang hanya bisa dicapai siswa yang pandai. Agar siswa ysng kurang pandai juga bisa maka diberikan soal yang sesuai dengan kepandainnya.
Kelima, diciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Dalam hal ini di lakukan guru dengan cara belajar yang punya rasa persahabatan, punya humor, pengakuan keberadaan siswa dan menghindari celaan dan makian.
Keenam, mengadakan persaingan sehat melalui hasil belajar siswa. Dalam persaingan ini dapat diberikan pujian, ganjaran ataupun hadiah.
2. Kompetensi guru PAI
Dalam PP No. 19 tahun 2005 tentang Standar Pendidikan pasal 28 dan 29 yang menyebutkan bahwa pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
Kompetensi guru merupakan syarat utama dalam proses pembelajaran. Kompetensi disini didefinisikan sebagai pemilikan pengetahuan (konsep dasar keilmuan), keterampilan yang dibutuhkan dalam menyelesaikan suatu pekerjaan dilapangan, dan kemampuan sebagai guru dalam melaksanakan tugasnya. Kompetensi ini meliputi :
a. Kompetensi Profesional
Kompetensi profesional adalah kemampuan guru dalam penguasaan bahan ajar secara penuh dan juga cara-cara mengajarkannya secara pedagogis dan metodis
b. Kompetensi Personal
Kompetensi personal guru berkaitan dengan potensi-potensi psikologis guru untuk tugas-tugas kependidikan. Menurut Sukmadinata (1994) dalam bukunya Chairul Fuad merinci kompetensi personal menjadi tiga cakupan yaitu :
1) penampilan sikap positif terhadap keseluruhan tugasnya sebagai guru dan terhadap keseluruhan situasi pendidikan;
2) pemahaman, penghayatan, dan penampilan nilai-nilai yang seyogyanya dimiliki guru; dan
3) penampilan sebagai upaya untuk menjadikan dirinya sebagai panutan dan teladan bagi para sisiwanya.
c. Kompetensi Sosial
Kompetensi sosial guru adalah kemampuan guru dalam berkomunikasi atau dalam berhubungan dengan para siswanya, sesama teman guru, kepala sekolah, pegawai tata usaha, dan dengan anggota masyarakat dilingkungannya (Arikunto, 1990). Dengan maksud lain kompetensi sosial guru adalah kemampuan guru dalam berhubungan sosial dengan sesama manusia, terutama dengan orang-orang disekitarnya, seperti tetangga, kerabat, dsb.
d. Kompetensi Keagamaan
Kompetensi keagamaan guru dimaksudkan untuk menyebutkan ”komitmen” beragama guru, bisa berupa nilai-nilai, sikap-sikap, dan perilaku beragama. Komitmen agama ini diukur dari ketaatan melaksanakan dan menjauhi larangan Allah, keakraban dengan Al-Qur`an Hadits dan ulama`, kegairahan dalam mempelajari ilmu agama, dan aktivitas dalam kegiatan keagamaan.
Dengan penguasaan dari seluruh kompetensi di atas akan dihasilkan guru yang kompeten dan profesional, memiliki kepribadian yang baik, taat pada agama, dan memiliki rasa sosial yang tinggi.

Kompetensi berasal dan bahasa Inggris “competence” yang berarti kecakapan dan kemampuan. Menurut Kamus besar bahasa Indonesia, kompetensi adalah kewenangan
(kekuasaan) untuk menentukan (memutuskan) sesuatu, (Djamarah 1994: 33). Kalau kompetensi berarti kemampuan atau kecakapan, maka hal ini erat kaitannya Dengan pemilikan pengetahuan, kecakapan atau keterampilan guru.

1. Makna Kompetensi Menurut Para Ahli
• Broke dan Stone: Discrivtive of qualitative natur or teacher behavior apperears to be entire/y meaning full. Kompetensi merupakan gambaran hakikat kualitatif dan dan pnilaku guru yang tampak sangat berarti.
•Charles Ejonson Competency as the rational feipormance wich satisfaktoy meets objective for a disired condition. Konipetensi adalah prilaku yang rasional untuk mcncapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kompetensi yang diharapkan.

2 Gagasan Norman Dodl Taxonomy for Teacher Competencies Kompetensi guru untuk “ssesing and evaluating students behavior” mengenal jiwa anak didik mempakan syarat mutlak dalam proses penentukan kepribadian individu Kelainan atau kesulitan-kesulitan dalam kepribadian anak didik itu pada umumnya dapat kita kelahu melalui tingkah laku.

3. beberapa Aspek atau, Ranah yang Terkandung dalam Konsep Kompetensi
 Pengetahuan (knowledge)
 Pemahaman (understanding)
 Kemampuan (skill)
 Nilai (value)
 Sikap (attitude)
 Minat (interest)
B. Jenis-jenis Kompetensi
1. Kompetensi Pribadi
1. Mengembangkan kepribadian.
2. Berjntersj dan berkomufljkasj
3. Me1aksj Bimbingn Penyuluhan Membimbing siswa yang mengalami kesuljtan belajar,
Membimbing rnurid yang berke1nan dan berbakat khUSUS
4. Admjnjsfrasj Sekojah
5. McIa Pene1jan Sederhana Lnk
2.kompetensi professional
1. menguasai landasan pendidikan
2. Menguasai bahan pengajaran
3. Menyusun program pengajaran
4. Melaksanakan program pembelajaran
5. Menilai hasil proses belajar mengajar yang telah di laksanakan

C. analisa pengertian-pengertian para ahli.
Berdasarkan pengertian para ahli kami mencoba untuk menganalisa pengertian tersebut. Seorang guru yang berkompetensi harus memiliki kemampuan baik dari aspek pengetahuan tentang belajar mengajar dan tingkah laku manusia juga harus memiliki sikap yang tetap tentang diri sendiri, teman sekolah , teman sejawat dan bidang studi yang lain, dan tidak lupa harus harus mempunyai keterampilan teknik mengajar.

D. Kesimpulan
Kompetensi merupakan perpaduan dan pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang di refleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kompetensi guru terdiri dari, kompetensi pribadi, kompetensi profesional. Di dalam kompetensi itu terdapat kemampuan yang terdiri dan kemampuan mengelola kelas, keterampilan mengelola bahan, keterampilan proses belajar mengajar.
BAB. II
HAKIKAT GURU
A. Pengertian Guru
Menurut Drs. H.A. Ametembun, guru adalah semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab terhadap penididikan murid, baik secara individual atau klasikal, baik di sekolah maupun diluar sekolah (Djamarah, 2000: 32).
Dari pengertian ini dapat disimpulkan bahwa guru dalam melaksanakan pendidikan baik di lingkungan formal dan non formal dituntut untuk mendidik, dan mengajar. Karena keduanya mempunyai peranan yang penting dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan ideal pendidikan. Mengajar lebih cenderung mendidik anak didik menjadi orang yang pandai tentang ilmu pengetahuan saja tetapi jiwa dan watak anak didik tidak dibangun dan dibina, sehingga disini mendidiklah yang berperan untuk membentuk jiwa dan watak anak didik dengan kata lain mendidik adalah kegiatan transfer of values, memindahkan sejumlah nilai kepada anak didik.

B. Persyaratan Guru
Menjadi guru berdasarkan tuntutan hati nurani hendaklah semua orang dapat melaksanakannya. Guru dituntut mempunyai suatu pengabdian yang dedikasi dan loyalitas, ikhlas sehingga menciptakan anak didik yang dewasa, berakhlak dan berketerampilan. Guru memang menempati keduduklan yang terhormat di masyarakat, kewibawaanlah yang menyebabkan guru dihormati dan diterima. Untuk lebih jelasnya kami akan menjelaskan bebrapa syarat menjadi guru sebagai berikut:
menurut Prof Dr. Zakiah Daradjat, menjadi guru hanis memenuhi beberapa persyaratan yaitu:
a) Takwa kepada Allah Swt;
b) Berilmu;
c) Sehat Jasmani; dan
d) Ikrkelakuan baik (Djamanah, 2000: 33).
C. Tanggung Jawab Guru
Guru adalah orang yang bertanggung jawab mencerdaskan kehidupan anak didik, untuk itulah guru dengan penuh dedikasi dan loyalitas berusaha membimbing dan membina anak didik agar di masa mendatang menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa. Karena besarnya tauggung jawab guru terhadap anak didiknya setiap hari guru meluangkan waktu demi kepentingan anak didiknya meskipun suatu ketika ada anak didiknya yang berbuat kurang sopan kepada orang lain, bahkan dengan sabar dan bijaksana guru memberikan nasehat bagaimana cara bertingkah laku yang sopan pada orang lain.
Memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik adalah suatu perbuatan yang mudah, tetapi untuk membentuk jiwa dan watak anak didik itulah yang sukar, sebab anak didik yang dihadapi adalah mahkluk hidup yang uimpunyai otak dan potensi yang perlu dipengaruhi dngan sejumlah norma hidup sesuai ideologi, falsafah dan agama.

D. Tugas Guru
Dengan disetujuinya RUU tentang sistem Pendidikan Nasional untuk di undangkan menjadi undang-undang dalam sidang pleno DPR hari Senin 6 Maret 1989, maka penyelenggaraan pendidikan di Indonesia akan disesuaikan dengan Undang-undang tersebut.
Atau seperti kata Mendikbud Prof. Fuad Hasan “Dengan berlakunya Undang-undang itu nanti maka tegaslah adanya pedoman penyelenggaraan kegiatan pendidikan kita” (Saridjo, 1990: 21). Untuk itu tugas guru bukan hanya memindahkan muatan materi kepeserta didik, tetapi dalam kurun waktu 24 jam Ia harus siap sedia sebagaimana tutur bapak Abdurrahmansyah.
E. Kepribadian Guru
Kepribadian guru adalah suatu masalah yang abstrak hanya dapat dilihat melaui penampilan, tindakan, ucapan, cara berpakaian dan dalam menghadapi setiap persoalan seliap guru mempunyai pribadi masing-masing sesuai dengan ciri-ciri pribadi yang ia miliki. Ciri-ciri tersebut tidak dapat ditiru oleh guru lain karena dengan adanya perbedaan ciri inilah maka kepribadian setiap guru itu tidak sama. Kepribadian adalah keseluruhan dan individu yang terdiri dari unsur psikis, dan pisik, artinya seluruh sikap dan pirbuatan seseorang akan menggambarkan sesuatu kepribadian apabila dilakukan secara sadar. Kepribadian merupakan suatu hal yang sangat menentukan tinggi rendahnya kewibawaan seorang guru dalam pandangan anak didik dan masyarakat.
F. Peranan Guru
Peranan guru sebagai pendidik profesional sesungguhnya sangat kompliks, tidak terbatas pada saat berlangsungnya interaksi edukatif di dalam kelas. Dengan menelaah kalimat di atas, maka sosok seorang guru itu harus siap sedia mengontrol peserta didik, kapan dan dimana saja, karena seperti apa yang diungkapkan oleh Abdurrahmansyah, M. Ag., kurikulum kependidikan Islam itu bukan hanya sebatas di sekolah saja tapi setiap saat.
Pantaslah James B. Broww berpendapat peran guru itu, menguasai dan mengembangkan materi pelajaran, merencanakan, mempersiapkan pelajaran sehari-hari mengontrol dan mengevaluasi kegiatan siswa (Subroto, 1997: 3). Untuk itu, TC. Pasaribu dan B. Simanjuntak, mcnyatakan “Di dalam pendidikan efektivitas dapat ditinjau dan dua segi :
I. Mengajar guru dan menyangkut sejauh mana kegiatan belajar mengajar yang di rencanakan terlaksana.
2. Belajar murid, yang menyangkut sejauh mana tujuan pelajaran yang di inginkan tercapai melalui kegiatan belajar mengajar.
G. Kode Etik Guru
Kalau masalah “kode etik” itu di kaji maka terdiri dan dua kata yakni kode dan etik. Kata etik berasal dan bahasa Yunani, ethos yang berarti watak, adab atau cara hidup. Dapat diartikan bahwa etik itu menunjukan “cara berbuat menjadi adat karena persetujuan dan kelompok manusia” dan etik biasanya dipakai untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang disebut kode sehingga terjemalah apa yang disebut “kode etik” atau secara harpiah kode etik berarti sumber etik. Etika artinya tata susila (etika) atau hal-hal yang berhubungan dengan kesusilaan dalam mengerjakan sesuatu pekerjaan. Jadi dapat dikatakan sebagai ukuran tatasusila keguruan (Djamarah, 2002: 49).
H. Kesimpulan
Dan banyak penjelasan di atas maka dapatlah kita ambil kesimpulan betapa sulit dan penuh tantangan kita selaku sosok seorang guru, tidak hanya memberikan muatan materi saja (transfer of knowledge) melainkan ia harus bersikap sebagai orang kedua dan orang tuanya. Guru adalah fokus yang sangat vital, sebab baik dan buruknya peserta didik itu tergantung sosok guru itu sendiri. Peningkatan mutulah yang seyogianya cepat kita perbaiki (tingkatkan).
BAB III
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
A. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa dalam meyakini, memahami, menghayati dan mengamalkan agama Islam melalui kegiatan bimbingan, pengarahan atau latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan kesatuan nasional (GBPP SMU, 1995: 1).
Di dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nisional No.2/1989 pasal 39 ayat 2 ditegaskan bahwa isi kurikulum setiap jenis, jalur dan jenjang pendidikan wajib memuat : (a) pendidikan Pancasila; (b) pendidikan agama; dan (c) pendidikan kewarganegaraan. Dan isyarat pasal tersebut dapat dipahami bahwa bidang studi pendidikan agama baik agama Islam maupun agama lainnya merupakan komponen dasar/wajib dalam kurikulum pendidikan nasional.
B. Tujuan Pendidikan Agama Islam
Tujuan pendidikan agama Islam bukanlah semata-mata untuk memenuhi kebutuhan intelektual saja, melainkan segi penghayatan juga pengamalan serta pengaplikasiannya dalam kehidupan dan sekaligus menjadi pegangan hidup.
Kemudian secara umum pendidikan agama Islam bertujuan untuk membentuk pribadi manusia menjadi pribadi yang mencerminkan ajaran-ajaran Islam dan bertaqwa kepada Allah, atau “hakikat tujuan pendidikan Islam adalah terbentuknya insan kamil” (Ramayulis, 1998:83).

H. M. Arifin (1991: 51), mengemukakan, bahwa tujuan pendidikan Islam adalah “membina dan mendasari kehidupan anak dengan nilai-nilai syariat Islam secara benar sesuai dengan pengetahuan agama”. Sedangkan Imam al-Ghazali berpendapat bahwa tujuan pendidikan Islam yang paling utama adalah “beribadah dan bertaqarrub kepada Allah, dan kesempurnaan insani yang tujuannya kebahagiaan dunia dan akhirat” (Ramayulis, 1998: 26). Selanjutnya Ahmad D. Marimba (t.t.: 46), menyatakan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah “untuk membentuk kepribadian muslim, yakni bertaqwa kepada Allah”.

C. Fungsi Pendidikan Agama Islam
Agama merupakan masalah yang abstrak tetapi dampak/pengaruhnya akan nampak dalam kehidupan yang kongkrit. Untuk mengkaji mengenai pentingnya pendidikan agama ini maka penulis akan mengungkapkan lebih dahulu fungsi agama diri sendini.
Agama dalam kehidupan sosial mempunyai füngsi sebagai sosialisasi individu, yang berarti bahwa agama bagi seorang anak akan mengantarkannya menjadi dewasa. Sebab untuk menjadi dewasa seseorang memerlukan semacam tuntunan umum untuk mengarahkan aktivitasnya dalam masyarakat dan juga menipakan tujuan pengembangan kepribadian, dan dalam ajaran Islam inilah anak tersebut dibimbing pertumbuhan jasmani dan rohaninya dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh dan rnengawasi benlaku ajaran Islam.
Menurut Zakiah Daradjat (1995: 58), fungsi agama itu adalah:
1. Memberikan bimbingan dalam hidup
2. Menolong dalam mengahadapi kesukaran
3. Mententramkan batin
D. Ruang Lingkup PAl 1994
Ruang lingkup pengajaran PAI mencakup usaha mewujudkan keserasian, keselarasan dan keseimbangan antara lain:
a. Hubungan manusia dengan Allah SWT.
b. Hubungan manusia dengan sesama manusia.
c. Hubungan manusia dengan dirinya sendiri.
d. Hubungan manusia dengan makhluk lain dan lingkungan alaxnnya.Bahan pengajaran PAI meliputi tujuh unsur pokok:
a. Keimanan.
b. Ibadah.
c. Al-Qur’an.
d. Muamalah.
e. Akhlak.
f. Syari’ah.
g. tarikh.
E. Metode dan Pendekatan Pengajaran PAI
1. Pendekatan
Pelaksanaan PAl di sekolah umum pada dasarnya melalui kegiatan intra dan ekstrakurikuler yang satu sama lain saling melengkapi.
• Pendekatan pengalaman yaitu pemberian pengalaman keagamaan kepada peserta didik dalam rangka penanaman nilai-nilai keagamaan.
• Pendekatan pembiasan yaitu dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk senantiasa mengamalkan ajaran agamanya
• Pendekatan emosional yaitu usaha untuk menggugah perasaan dan emosi peserta didik dalam meyakini, memahami dan menghayati ajaran agamanya.
• Pendekatan rasional yaitu usaha memberikan peranan kepada rasio (akal) dalam memahami dan menerima kebenaran ajaran agama.
2. Metode
Metode berasal dari dua perkataan yaitu meta dan hodos yang artinya jalan atau cara. Jadi metode artinya suatu jalan yang dilalui untuk mencapai suatu tujuan.
Metode mempunyai peranan penting dalam upaya menjamin kelangsungan proses belajar mengajar lebih-lebih lagi bagi seorang guru yang akan menyampaikan materi pelajaran. Sebelum menyampaikan materi pelajaran seorang guru dituntut untuk mengetahui apa
pengertian metode itu sendiri.
Winarno surakhmad di dalam buku syaiful bahri mengatakan, bahwa pemilihan dan penetuan metode di pengaruhi oleh bebrapa factor .sbb :
A. Anak didik
B. Tujuan
C. Situasi
D. Fasilitas
E. Guru.
Berikut dikemukakan metode yang tepat dalam pembelajaran agama :
1. Metode pembelajaran yang berpusat pada guru
2. Metode pembelajaran yang berpusat kepada siswa
3. Metode pembelajaran yang berpusat antara guru dan siswa
4. Metode penghargaan
F. Sistem Evaluasi Pengajaran PAI di Sekolah Umum
Evaluasi dilaksanakan untuk menilai proses dan basil belajar siswa. Penilaian mencakup aspek kognitif afektif dan psikomotor. Evaluasi terhadap aspek kognitif meliputi semua unsur materi pokok PAI, sedangkan afektif lebih menekankan pada unsur pokok keimanan dan akhlak dan penilaian terhadap aspek psikomotor ditekankan pada unsur pokok ibadab dan al-Qur’an.
G. Beberapa Aspek Kurikulum PAI
Pada hakikatnya kurikulum dikaji berdasarkan tingkatan-tingkatan pendidikan:
1. Kunikulum dapat diartikan sebagai serangkaian tujuan pendidikan yang menggabungkan berbagai kemampuan, nilai dan sikap yang harus dikuasai dan dimiliki oleh peserta didik dan suatu satuan jenjang pendidikan.
2. Kurikulum dapat diartikan sebagai kerangka materi yang memberikan gambaran tentang bidang-bidang pelajaran yang perlu dipelajani oleh para siswa untuk menguasai serangkaian kemampuan, nilai dan sikap yang secara institusional harus dikuasai para siswa setelah selesai mempelajarinya.
3. Kurikulum sebagai ganis besar materi dan suatu bidang pelajaran yang telah dipilih untuk dijadikan objek bidang.
H. Arah Baru Pengembangan
Upaya yang dapat dilakukan untuk melaksanakan dan mengembangkan kurikulum PAI di SMU pada masa yang akan datang: (Abdurrahmansyah dan M. Fauzi, 2003).
1. Pelaksanaan PAI di sekolah umum hams semakin ditingkatkan secara efektif dan intensif dengan lebih menekankan pada pendidikan akhlak
2. Penyusunan dan pengembangan kurikulum PAI di sekolah umum pada masa akan datang harus menggunakan pendekatan interdisipliner yaitu dengan melibatkan para pakar dalam bidang ilmu yang lain.
I. Pola Pendidikan Islam dalam Keluarga
Tujuan utama pendidikan Islam adalah pembentukan akhlak (budi pekerti), yakni pendidikan yang sanggup melahirkan orang-orang bermoral, berjiwa bersih, berkemauan keras, tahu arti kewajiban, menghormati hak-hak azazi manusia, tahu membedakan yang benar dan yang salah, senantiasa mengingat Allah dalam setiap langkah dan perbuatan yang hendak dilakukannya. Seperti firman Allah dalam surat aI-Furqan yang artinya, di bawah ini:
“Dan hamba-hamba yang baik pada Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapakan kata-kata yang mengandung keselaniatan.”

J. Kesimpulan
Pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa dalam meyakini, memahami, menghayati dan mengamalkan agama Islam melalui kegiatan bimbingan pengajaran dan latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunanan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan kesatuan nasional.
Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kchidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya, yang berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan serta kesehatan jasmani dan rohani, berkepribadian yang mantap dan mandiri serta bertanggung jawab.

BAB IV
ETIKA KEGURUAN
A. Profesi Keguruan
Secara sederhana pekerjaan apapun akan dinilai professional adalah apabila out-put yang dihasilkan dapat memenuhi keinginan semua pihak. Semua profesi bisa dikatakan professional bila pekerjaan itu dilakukan oleh mereka secara khusus bukan karena tidak bisa melakukakan pekerjaan lainnya. Begitu pula profesi guru, guru adalah sangat penting karena ia akan menyampaikan ilmu pengetahuan yang tidak akan pernah rusak sampai kapanpun.

B. Tugas dan Tanggung Jawab Guru
Dalam melaksanakan tugasnya, seorang guru mempunyai tanggung jawab yang utama. Mengajar merupakan suatu perbuatan yang memerlukan tanggung jawab moril yang cukup berat. Berhasilnya pendidikan pada siswa sangat tergantung pada pertanggung jawaban guru dalam melaksanakan tugasnya. Masalah utama pekerjaan profesi adalah implikasi dan konsekuensi pekerjaan tersebut terhadap tugas dan tanggung jawabnya.
Tugas guru bukan saja menyangkut kegiatannya di dalam kelas atau sekolah, melainkan harus pula melakukan hal-hal atau melaksanakan seperangkat tingkah laku sehubungan dengan kedudukannya sebagai guru. Menurut Peters, tugas dan tanggung jawab guru adalah: 1) sebagai pengajar; 2) sebagai pembimbing; dan 3) sebagai administrasi kelas.

C. Peran Guru
Adanya perkembangan baru dalam proses belajar mengajar membawa konsekuensi guru untuk meningkatkan peranannya dan kompetensinya. Guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan mengelola kelasnya sehingga hasil belajar siswa berada tingkat optimal. Menurut Adam dan Pecey peranan dan kompetensi guru yang dominan meliputi sebagai demonstrator (pengajar), pengelola kelas, mediator atau fasilitator dan evaluator. Disamping itu peran guru juga dalam hal pengadministrasian, secara pribadi dan secara psikologis (Usman, 1992: 8).

D. Kesimpulan
Saat ini peran guru masih sangat penting, walaupun ditengah arus kemajuan ilmu dan teknologi yang kian pesat seperti laju informasi yang bisa langsung diterima bukan dan guru, namun dan alat-alat canggih seperti TV, Radio dll. Dalam menyikapi hal ini guru dituntut dapat memerankan perannya sesuai dengan kebutuhan ataupun tuntutan masyarakat.
Dalam melaksanakan tugasnya, seorang guru mempunyai tanggung jawab yang utama. Mengajar merupakan suatu perbuatan yang memerlukan tanggung awab moril yang cukup berat. Berhasilnya pendidikan pada siswa sangat tergantung pada pertanggung jawaban guru dalam melaksanakan tugasnya. Masalah utama pekerjaan profesi adalah implikasi dan konsekuensi pekerjaan tersebut terhadap tugas dan tanggung jawabnya.
Tugas dan peran guru tidaklah terbatas di dalam masyarakat, bahkan pada hakikat-nya tugas guru merupakan komponen strategis yang memiliki peran yang penting dalam menentukan gerak maju kehidupan bangsa. Keberadaan guru merupakan faktor yang penting dalam suatu bangsa yang tidak mungkin digantikan oleh yang lain.

BAB V
ETIKA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
A. Pengertian Etika
Etika (etimologi), berasal dad bahasa Yunani “Ethos” yang berarti watak kesusilaan atau adat. Identik dengan perkataan moral yang berasal dad kata latin “Mos” yang dalam bentuk jamaknya “Mores” yang berarti juga adat atau cara hidup (Zubair, 1987: 13).
B. Etika Menunit Ajaran Islam
Istilah etika dalam ajaran Islam tidak sama dengan apa yang diartikan oleh para ilmuwan barat. Bila etika barat sifat-nya “antroposentrik” (berkisar sekitar manusia), maka etika Islam bersifat “teosentrik” (berkisar sekitar Tuhan). Dalam etika Islam suatu perbuatan selalu dihubungkan dengan amal saleh atau dosa, dengan pahala atau siksa, dengan surga atau neraka Musnamar, 1986: 88).
C. Butir-butir Etika Islam
Butir-butir etika Islam yang dapat diidentifkasikan, antar lain:
1. Tuhan merupakan sumber hukum dan sumber moral. Kedua hal tersebut disampaikan berupa wahyu melalui para Nabi dan pan Rasul, dikodifikasikan ke dalam kitab-kitab suci Allah.
2. Sesuatu perbuatan adalah baik apabila sesuai dengan perintah Allah, serta didasari atas niat baik.
3. Kebaikan adalah keindahan akhlak, sedangkan tanda-tanda dosa adalah perasaan tidak enak, serta merasa tidak senang apabila perbuatannya diketahui orang banyak.
4. Prikemanusiaan hendaknya berlaku bagi siapa saja, dimana saja, dan kapan saja, bahkan dalam perang.
5. Anak wajib berhakti kepada orang tuanya (Musnamar, 1986: 89-93).
D. Hubungan Etika/Adab di dalam Pendidikan
Semua jabatan dalam masyarakat mempunyai kode etik, demikian juga seharusnya dalam jabatan guru (Roestiyah, (1989: 35).
Kode etik guru diartikan sebagai aturan tata susila keguruan. Maksudnya aturan-aturan tentang keguruan (yang menyangkut pekerjaan-pekerjaan guru) dilihat dan segi susila. Menurut Westby Gibson, kode etik guru dikatakan sebagai suatu statement formal yang merupakan norma (aturan tata susila) dalam mengatur tingkah laku guru.

E. Tata Cara yang Wajib Diamalkan oleh Seorang Guru dalam Jabatannya
1. Hubungan guru dengan murid.
2. Hubungan gwv dengan sesama guru
3. Hubwigan guru dengan atasannya,
4. Hubungan gum dengan orang tua,
5. Hubungan guru dengan inasyarakat,
E. Etika/Adab dalam Bergaul Anak Didik
1. Adab Terhadap Guru
Guru adalah orang yang telah memberikan ilmu atau pelajaran kepada murid, maka adalah menjadi tugas murid untuk memuliakan guru.
2. Adab Terhadap Sesama Murid
Khususnya di antara murid pria dan wanita, karena dalam pergaulan di antara mereka itulah sering terjadi peluang yang mengganggu kehidupan belajar dan dapat berakibat jauh dalam kehidupan mereka kelak.
F. Kesimpulan
Dari unaian di atas, maka dapat disimpulkan beberapa hal, yaitu:
1. Etika berasal dan bahasa Yunani “ethos” yang berarti watak kesusilaan atau adat.
2. Etika Islam bensifat teosentrik (benkisar sekitar Tuhan).
3. Butir-butir etika Islam antara lain yaitu, Tuhan merupakan sumber hukum dan sumber moral, suatu penbuatan adalah baik apabila sesuai dengan perintah Allah serta didasari atas niat baik, kebaikan adalah keindahan akhlak, perikemanusiaan hendaknya berlaku bagi siapa saja, dimana saja dan kapan saja, dan lain-lain.
4. Tingkah laku atau moral guru pada umumnya menupakan penampilan lain pada kepribadiannya. Cara guru berpakaian, berbicara, benjalan dan bergaul juga merupakan penampilan kepribadian lain, yang juga mempunyai pengaruh terhadap anak didik.
5. Tata cara yang wajib diamalkan oleh seorang guru dalam jabatannya mencakup hubungan antara guru dengan murid, hubungan antara guru dengan sesama guru, hubungan antara guru dengan atasannya, hubungan antara guru dengan orang tua, dan hubungan guru dengan masyanakat.

BAB VI
KEPRIBADIAN GURU

A. Kepribadian Guru
Faktor terpenting pada seorang guru adalah kepribadiannya. Karena dengan kepribadian itulah seorang guru bisa menjadi seorang pendidik dan pembina bagi anak didiknya atau bahkan malah sebaliknya malah akan menjadi perusak dan penghancur bagi masa depan anak didiknya.

B. Kepribadian Guru Madrasah Ibtidaiyah
Segenap guru hendaknya mengetahui dan menyadari Betul bahwa kepribadiannya yang tercermin dalam berbagai penampilan itu ikut menentukan tercapai atau tidaknya tujuan pendidikan pada sebuah lembaga pendidikan itu sendidiri pada umumnya dan pada tempat ia mengajar pada umumnya. Kepribadian guru tersebut akan diserap dan diambil oleh anak didik menjadi unsur dalam kepribadiannya yang sedang tumbuh dan berkembang.

C. Kepribadian Guru Madrasah Tsanawiyah
Syarat kepribadian bagi guru madarasah Tsanawiyah tidak banyak berebeda dengan guru madrasah Ibtidaiyah.

D. Kepribadian Guru Madrasah Aliyah

Guru madrasah Aliyah memerlukan persyaratan kepribadian yang hampir sama dengan kepribadian guru di madrasah Ibtidaiyah dan madrasah Tsanawiyah walaupun bidang studi dan keahliannya semakin banyak dan bermacam-macam sesuai dengan jurusannya masing-masing. Kepribadian guru madrasah Aliyah harus dapat menjamin tercapainya tujuan pendidikan pada madrasah Aliyah tersebut secara khusus dan tujuan pendidikan secara umum.

E. Komponen-komponen Kompetensi Pribadi
Kemampuan pribadi meliputi hal-hal sebagai berikut (Usman, 1995: 16-17)
1. Mengembangkan kepribadian.
2. berinteraksi berkomunikasi
3. melaksanakan bimbibingan penyuluhan
4. melaksanakan administrasi sekolah
adapun kemampuan kepribadian seorang guru dalam peruses belajar menagajar secara rinci sebagai berikut :
1.kemanatapan integritas pribadi
2.peka terhadap perubahan, pembaharuan
3.berfikir alternative
4. adil, jujur dan objektif
5. berdisiplin dalam melaksanakan tugas
6. ulet dan tekun bekerja
7. berusaha memperoleh hasil kerja yang sebaik-baiknya
8. simpatik, lues, bijaksana sederhana dalam bertindak
9.bersifat terbuka
10. kreatif
11. berwibawa

F. Kesimpulan
Tanpa disadari atau tidak disamping perangkat dan segala hal yang berhubungan dengan pengajaran dan yang bermuara pada keberhasilan tujuan pendidikan, ternyata adalah kepribadian guru juga merupakan hal yang sangat menentukan dalam keberhasilan pengajaran. Bahkan kepribadian ini dianggap sangat vital karena anak didik akan mencontoh dan menyerap dan segala tingkah laku dan penampilan guru pada saat mengajar dan dalam kehidupan sehari-hari.
Melihat penampilan itulah nantinya akan menjadi unsur yang akan diserap oleh anak didik yang sedang tumbuh dan berkembang dalam usia yang memang dalam masa-masa kegoncangan sehingga apapun yang ia dapatkan itu sangat sulit untuk menyaringnya. Kecuali, diatasi dengan kepribadian guru saat mengajar.

BAB VII
PEMBINAAN
PROFESIONALITAS GURU

A. Pembinaan Aspek Profesional

Aspek profesional yang hams dimiliki guru diharapkan mampu membuat atau menjadikan pendidikan menjadi berkesinambungan atau mempunyai timbal balik yang saling berkesinambungan. Guru yang dikatakan profesioanal ía tidak hanya bertugas membenikan suatu teori akan tetapi mampu mendidik siswa menjadi lebih mengarah kepada nilai-nilai yang positif dan benar-benar melibatkan siswa secara aktif, dengan demikian aktifitas murid merasa dihargai dalam proses belajar mengajar (Pedoman Akademik Fak. Tarbiyah, 2000: 16).

B. Peran Guru sebagai Pendidik

Tatkala kita berbicara masalah interaksi dalam proses belajar mengajar, kita tidak bisa lepas dan hal “guru”. Guru merupakan salah satu komponen dalam proses belajar mengajar. Karena besarnya peranan guru tersebut sehingga sering kali baik buruk dan tinggi rendahnya prestasi siswa atau mahasiswa, bahkan sampai pada umum pendidikan, pada umumnya dikembalikan pada guru. Menurut saya hal itu terlalu berlebihan sebab, keberhasilan proses belajar mengajar ditentukan oleh banyak faktor, guru, murid, metode, alat atau sarana , situasi dan lain sebagainya.

B. Menggunakan Keseluruhan Sumber Belajar

Suatu faktor yang menyebabkan rendahnya kualitas pembelajanan antara lain belum dimanfaatkannya sumber belajar secara maksimal, baik guru maupun peserta didik. Hal tersebut dipersulit lagi oleh kondisi yang turun temurun, dimana guru mendominasi kegiatan pembelajaran. Pendayagunaan sumber belajar dalam proses belajar mengajar memiliki anti sangat penting, selain melengkapi, memelihara, dan memperkaya khazanah belajar, sumber Belajar juga dapat meningkatkan aktifitas dan kreatifitas belajar,yang sangat menguntungkan baik bagi guru maupun bagi para peserta didik.

D. Cara Mendayagunakan Sumber Belajar

Keprofesionalan yang dicapai seorang guru harus melalui aspek kemampuan akademik yang membuat guru itu menjadi profesional dengan kemampuan akademik yang dimilikinya yang diperolehnya melalui proses pendidikan yang didapatkannya dan wadah pembinaan yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga tertentu.

Komponen Kurikulum
Kurikulum merupakan sejumlah pengalaman pendidikan kebudayaan, sosial, olahraga, dan kesenian yang disediakan oleh sekolah atau pihak perguruan bagi siswa dalam dan luar sekolah dengan tüjuan membantu perkembangan mereka secara menyeluruh dalam aspek dan sekaligus merubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan-tujuan pendidikan yang diharapkan

Tujuan Kurikulum di Perguruan Tinggi

Penyelenggaraan pendidikan diperguruan tinggi dilaksanakan atas dasar kurikulum yang disusun oleh masing-masing perguruan tinggi sesuai dengan sasaran program studi yang dicapai. Perguruan tinggi dapat mengembangkan kurikulum dengan berpedoman pada kurikulum yang berlaku secara nasional. Kurikulum yang berlaku nasional diatur oleh menteri pendidikan dan kebudayaan. Bila mana belum berlaku secara nasional untuk program studi tertentu, perguruan tinggi yang hendak menyelenggarakan dapat mengusulkan rancangan kurikulum untuk program studi tersebut kepada departemen untuk memperoleh pengesahan.( arthous, 1992: 31-35).

E. Kesimpulan

Seorang guru akan dikatakan profesional apabila dia sudah menguasai aspek akademik yang dipelajari guru pada wadah pembinaan atau lembaga tertentu profesional guru itu dilihat dari segi bagai mana guru menghadapi problem-problem yang menjadi persoalan, yang dihadapi dalam proses belajar mengajar. Guru bukan Cuma diharapkan mampu memberikan materi secara baik akan tetapi guru harus mampu memberikan penanaman nilai-nilai terhadap siswa, dan juga guru diharapkan mampu menjadi seorang pendidik bukan hanya sebatas melepaskan tanggung jawab sebagai seorang pengajar.

BAB VIII
WADAH PEMBINAAN
KOMPETENSI GURU PAI

A. Kompetensi Akademik Guru PAI

Pengertian kompetensi adalah kemampuan atau kecakapan, sedangkan kompetensi guru merupakan kernampuan seorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban serta bertanggung jawab dan layak niengajar. Maka kompetensi akademik guru dapat diartikan sebagai kemarnpuan dan kewenangan guru dalam menjalankan profesi keguruannya berdasarkan potensi akademik keilmuan yang dimilikinya (Syab, 2002: 229).
Hal ini senada dengan apa yang dikemukakan Syaiful Bahri Djamarah bahwa kompetensi guru dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu faktor latar belakang pendidik (akademik) dan pengalarnan mengajar (Djamarah, 1994: 130-132).

B. Pembinaan Kompetensi Akademik Guru PAI

Kata pembinaan dimengerti sebagai terjemahan dan kata training yang berarti latihan, pendidikan, pembinaan. Pembinaan menekankan manusia pada segi praktis, pengembangan sikap, kemampuan dan kecakapan. Sedangkan pendidikan menekankan pengembangan manusia pada segi teonitis : pengembangan pengetahuan dan ilmu (Hardjana, 1991: Ti).
Pembinaan guru sering diistilahkan supervisi, namun secara terminologi pembinaan guru sering diartikan sebagai rangkaian usaha untuk membantu guru, terutama bantuan yang yang berwujud layanan profesional yang dilakukan kepala sekolah, pemilik sekolah, pengawas serta pembina lainnya untuk meningkatkan proses dan hasil Belajar (Ali Imron, 1995: 9).

C. Pengembangan Kompetensi Akademik Guru PAI

Pengembangan kompetensi akademik guru PAI berkaitan erat dengan pengembangan profesi pendidikan yang pada akhirnya juga berkaitan dengan organisasi pendidik tersebut. Sebab pengembangan profesi itu disarnping dilakukan oleh para pendidik secara individual, secara konsep dibantu, diawasi dan dikordinasi oleh organisasi profesinya. Namun fungsi organisasi profesi seperti ini dalam bidang pendidikan masih belum tampak, karena itu kebanyakan pendidik mengembangkan profesinya sendiri-sendiri.

BAB IX
KETELADANAN
DAN AKHLAK GURU

A. Pengertian Keteladanan

Keteladanan berasal dan kata “Teladan yang berarti sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk dicontoh” (Aiwi, 2001: 1160). Sedangkan dalam bahasa Arab adalah Uswatun Hasanah. Dilihat dan segi kalimainya uswatun hasanah terdiri dan dua kata yaitu uswatun dan hasanah. Mahmud Yunus mendefinisikan “uswatun sama dengan qudwah yang berarti ikutan” (Yunus, 1989: 42). Sedangkan “hasanah diartikan sebagai perbuatan yang baik” (Yunus: 1989: 103).

B. Kriteria-kriteria Keteladanan

Dan beberapa pengertian tentang keteladanan, benikut dikemukakan beberapa kritenia keteladanan guru.
Menumt al-Ghazali yang dikutip oleh Zainuddin dkk, bahwa knitenia-kniteria keteladanan gum antara lain:
1. Sabar
2. Bersifat kasih dan tidak pilih kasih
3. Sikap dan pembicaraannya tidak main-main
4. Menyantuni serta tidak membentak orang bodoh
5. Membimbing dan mendidik murid-murid bodoh dengan sebaik-baiknya
6. Bersikap tawadu dan tidak takabur
7. Menampilkan hujjah yang benar

D. Pengertian Akhlak

Perkataan “akhlak” berasal dan bahasa Arab jarna’ dan “khuiuq” yang rnenurut loqhat diartikan budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat (Ya’qub, 1993: 11). Dalam pengertian sehari-hari “akhlak” umumnya disamakan artinya dengan arti kata budi pekerti atau kesusilaan atau sopan santun (Tatapangarsa, 1994: 13).

Imam al-Ghazali mengemukakan akhlak sebagai berikut:

Artinya: ahlak ialah suatu sifat yang tertanam da/am jiwaya dan sifat-sifat itu timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan tidak memerlukan pertimbangan pikiran (lebib dulu)” (tatapangarsa, 1994: 14).

E. Dasar Akhlak

Akhlak merupakan cermin dari pada umat Islam yang tentu saja mempunyai dasar. Dan dasar inilah yang harus dihayati dan diamalkan agar tercipta akhlak yang mulia.
Menurut M. Ali Hasan dalam bukunya Tuntunan Akhlak mengemukakan bahwa yang menjadi dasar sifat seseorang itu baik atau bumk adalah al-Quran dan Sunnah (Hasan, 1978: 11). Apa yang baik menurut al-Quran dan Sunnah, itulah yang baik untuk di kerjakan dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, apa yang buruk menurut al-Quran dan Sunnah, berarti itu tidak balk dan harus dijauhi.

F. Tujuan Akhlak

Menurut M. Mi Hasan (1978: 11) tujuan pokok akhlak adalah “agar setiap manusia berbudi pekerti (berakhlak), Bertirngkah laku, berperangai atau beradat istiadat yang baik, yang sesuai dengan ajaran Islam”.

G. Macam-macam Akhlak

Secara garis besar akhlak itu tenbagi dua macam, antara keduanya bertolak belakang efeknya bagi kehidupan manusia. Akhlak tensebut adalah:

1. Akhlak yang balk atau akhlak mahmudah
2. Akhlak yang buruk atau akhlak mazmumah

H. Kedudukan Akhlak bagi Guru

Kedudukan akhlak dalam kehidupan manusia menempati posisi yang penting sekali. Pentingnya akhlak ini tidak saja dirasakan oleh manusia dalam kehidupan perseorangan, tetapi juga dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat bahkan juga dirasakan dalam kehidupan berbangsa atau bernegara.